Anak-anak ini datang sebagai tamu. Kami berharap mereka pulang sebagai bagian dari keluarga kami”
Kalimat tersebut disampaikan dengan hangat oleh Mohammad Arifin, Kepala Desa Kemiren, ketika menyambut para peserta Youth Summer Experience 2026. Di tengah hamparan sawah, rumah adat Osing yang masih terjaga, dan suasana pegunungan Banyuwangi yang sejuk, sambutan itu menjadi pintu masuk menuju pengalaman belajar yang tidak selalu dapat ditemukan di dalam ruang kelas.
Di Desa Kemiren inilah perjalanan Youth Summer Experience atau YSE 2026 dimulai.
Program ini bukan sekadar perjalanan luar sekolah, melainkan pengalaman untuk mengenali diri sendiri melalui perjumpaan dengan orang lain. Para siswa belajar tentang kepemimpinan, keberagaman, kerja sama, budaya, dan kehidupan masyarakat secara langsung.
Mengusung tema “Warriors’ Horizon”, YSE 2026 mengajak peserta keluar dari zona nyaman dan memasuki ruang belajar yang paling autentik, yaitu kehidupan itu sendiri.
Program Unggulan SCK–SCB Sejak 2018
Youth Summer Experience merupakan salah satu program unggulan dalam jaringan Sekolah Citra Kasih, Sekolah Citra Berkat, dan Sekolah Ciputra Kasih. Program ini telah menjadi bagian dari budaya belajar sekolah sejak 2018.
Pada 2026, YSE kembali mempertemukan siswa dari berbagai sekolah dalam jaringan SCK–SCB, serta peserta dari luar jaringan sekolah. Mereka datang dari kota, sekolah, dan latar belakang yang berbeda, kemudian dipertemukan dalam rangkaian pengalaman belajar yang sama.
Rangkaian YSE 2026 berlangsung selama enam hari. Empat hari pertama berfokus pada kegiatan live-in dan pembelajaran bersama masyarakat di Desa Kemiren, Banyuwangi. Setelah itu, peserta melanjutkan perjalanan eksplorasi budaya dan pengembangan diri di Banyuwangi serta Bali hingga hari keenam.
Desa Kemiren Menjadi Ruang Kelas Kehidupan
Bagi sebagian siswa, kegiatan belajar biasanya identik dengan buku, papan tulis, laboratorium, dan ruang kelas. Namun, dalam Youth Summer Experience 2026, ruang kelas mereka adalah Desa Kemiren dengan seluruh kekayaan budaya dan kesederhanaan kehidupan masyarakatnya.
Guru mereka bukan hanya tenaga pendidik, tetapi juga petani, perajin batik, pelaku UMKM, pelaku seni, tokoh masyarakat, keluarga angkat, serta anak-anak muda yang tergabung dalam kelompok sadar wisata atau Pokdarwis.
Materi yang mereka pelajari pun tidak hanya berupa teori. Para peserta belajar bagaimana menghargai perbedaan, berkomunikasi dengan masyarakat, bekerja sama, menyelesaikan persoalan, membangun empati, dan menempatkan diri sebagai bagian dari sebuah komunitas.
Belajar dari Kehidupan Masyarakat Osing
Selama menjalani program live-in, para siswa tinggal bersama keluarga angkat di Desa Kemiren. Mereka mengikuti ritme kehidupan masyarakat, membantu pekerjaan rumah, memasak, berbincang dengan keluarga baru, dan mengenal budaya Suku Osing.
Di tengah kehidupan yang sederhana, siswa menemukan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari fasilitas yang lengkap. Kebahagiaan juga dapat hadir melalui kebersamaan, rasa syukur, kepedulian, dan hubungan yang tulus.
Dalam pengalaman ini, tidak ada nilai ujian maupun peringkat kelas. Hal yang paling berarti adalah keberanian untuk mencoba, kerendahan hati untuk belajar, serta ketulusan dalam menghargai orang lain.
Melalui YSE 2026, siswa diajak menjadi pribadi yang:
- berani keluar dari zona nyaman;
- mampu bekerja sama dengan orang yang berbeda;
- menghargai budaya dan keberagaman;
- tangguh menghadapi tantangan; dan
- bersedia melayani serta memberikan kontribusi.
Karakter inilah yang diharapkan tumbuh dalam diri setiap peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Diterima sebagai Bagian dari Keluarga Desa Kemiren
Para peserta YSE tidak diperlakukan sebagai wisatawan yang hanya datang untuk melihat kehidupan masyarakat. Mereka diterima sebagai bagian dari keluarga Desa Kemiren.
Pada acara perpisahan, Kepala Desa Kemiren kembali menyampaikan harapannya kepada para peserta.
“Kami percaya pendidikan terbaik terjadi ketika seseorang mau membuka hati untuk belajar dari kehidupan. Kehadiran adik-adik YSE bukan hanya membawa semangat baru bagi desa kami, tetapi juga menjadi kesempatan untuk saling belajar. Kami berharap mereka pulang dengan membawa cerita, persahabatan, dan rasa cinta terhadap budaya Indonesia.”
Leadership Challenge dan Personal Development
Selain mengikuti live-in, para peserta menjalani berbagai aktivitas pengembangan diri. Kegiatan tersebut meliputi leadership challenge, personal development, outbound, pembelajaran bersama pelaku UMKM, batik class, kegiatan bersama warga, serta eksplorasi budaya dan alam Banyuwangi dan Bali.
Setiap aktivitas disusun untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan pada masa depan.
Melalui leadership challenge, peserta belajar mengambil tanggung jawab, menyampaikan pendapat, mendengarkan anggota tim, dan menentukan keputusan bersama.
Dalam kegiatan personal development, mereka diajak mengenali kekuatan diri, memahami tantangan pribadi, serta membangun keberanian untuk terus berkembang.
Sementara itu, kolaborasi bersama pelaku UMKM dan masyarakat membantu siswa melihat secara langsung bagaimana kreativitas, ketekunan, budaya, dan kemampuan membaca peluang dapat menciptakan nilai bagi lingkungan.
Belajar Entrepreneurship dari Kehidupan Nyata
Youth Summer Experience menjadi salah satu implementasi nyata dari semangat Entrepreneurship Learning with Academic Excellence.
Entrepreneurship dalam program ini tidak hanya dikaitkan dengan membuat atau menjual produk. Para siswa juga belajar mengenai cara berpikir kreatif, mengenali kebutuhan masyarakat, mengambil inisiatif, menyelesaikan masalah, dan memberikan kontribusi.
Saat berinteraksi dengan pelaku UMKM, perajin, dan masyarakat lokal, siswa dapat melihat bahwa sebuah usaha tumbuh dari proses panjang. Di dalamnya terdapat keberanian mencoba, kemampuan beradaptasi, kerja keras, dan kemauan untuk terus melakukan perbaikan.
Pengalaman tersebut membantu peserta memahami bahwa seorang entrepreneur perlu memiliki empati serta mampu menciptakan solusi yang relevan bagi orang lain.
Datang sebagai Orang Asing, Pulang sebagai Sahabat
Salah satu keunikan YSE adalah kemampuannya mempertemukan siswa dari berbagai sekolah dan daerah.
Pada awal kegiatan, sebagian peserta mungkin masih merasa canggung karena belum saling mengenal. Namun, berbagai tantangan kelompok, aktivitas bersama, dan pengalaman tinggal di desa membantu mereka membangun hubungan yang lebih dekat.
Sekat asal sekolah, kota, dan latar belakang perlahan menghilang. Para siswa belajar membagi tugas, mendukung teman, menyelesaikan tantangan, dan mencapai tujuan bersama.
Salah satu peserta membagikan pengalamannya:
“Awalnya saya merasa canggung karena harus tinggal dengan keluarga yang belum pernah saya kenal. Namun, beberapa hari kemudian saya merasa seperti memiliki keluarga baru. Saya juga bertemu teman-teman dari sekolah lain. Kami belajar saling membantu, berbagi tugas, dan menyelesaikan tantangan bersama. Rasanya ini bukan hanya program sekolah, tetapi pengalaman hidup yang akan selalu saya ingat.”
Cerita tersebut mungkin tidak tercantum dalam rapor. Namun, pengalaman seperti inilah yang sering kali menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter siswa.
Pembelajaran Berbasis Pengalaman yang Bermakna
Youth Summer Experience menggunakan pendekatan experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman.
Peserta tidak hanya menerima penjelasan, tetapi mengalami, mencoba, berinteraksi, merefleksikan, dan menemukan makna dari setiap aktivitas. Proses tersebut membantu pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata.
Saat menghadapi perbedaan pendapat, siswa belajar berkomunikasi. Saat mengalami kesulitan, mereka belajar bertahan dan mencari solusi. Saat tinggal bersama keluarga angkat, mereka belajar menyesuaikan diri dan menghargai kebiasaan yang berbeda.
Setiap pengalaman menjadi bahan refleksi bagi peserta untuk memahami diri sendiri dan lingkungan di sekitarnya.
Membentuk Hati, Bukan Hanya Mengisi Pengetahuan
Bagi Ketua Panitia YSE 2026 yang akrab disapa Pak Adi, keberhasilan program tidak diukur dari seberapa jauh peserta melakukan perjalanan. Keberhasilan terlihat dari perubahan yang mereka alami setelah kembali ke rumah.
“Kami ingin setiap peserta pulang dengan membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada oleh-oleh. Mereka membawa pengalaman hidup, keberanian keluar dari zona nyaman, kemampuan bekerja sama dengan teman-teman baru, mengenal komunitas baru, menghargai budaya yang berbeda, serta keyakinan bahwa menjadi pemimpin dimulai dari kemampuan melayani orang lain. Itulah makna sesungguhnya dari Warriors’ Horizon.”
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa pendidikan bukan hanya proses mengisi pikiran dengan pengetahuan. Pendidikan juga merupakan proses membentuk hati, karakter, dan kepedulian.
Perpisahan yang Menjadi Awal Perjalanan Baru
Ketika rangkaian live-in berakhir dan kendaraan mulai meninggalkan Desa Kemiren, lambaian tangan warga mengiringi perjalanan para peserta. Bagi sebagian siswa, perpisahan tersebut menghadirkan rasa haru karena dalam waktu singkat telah terbentuk hubungan yang begitu dekat.
YSE tidak hanya mengajarkan siswa bagaimana hidup bersama masyarakat. Program ini membantu mereka belajar menjadi bagian dari masyarakat.
Di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi, kemampuan memahami manusia, membangun relasi, berempati, dan bekerja sama tetap menjadi keterampilan yang sangat penting.
Kecerdasan dapat membantu seseorang mencapai keberhasilan. Namun, karakter akan menentukan bagaimana seseorang menggunakan keberhasilan tersebut untuk memberikan dampak yang baik.
Ketika para peserta kembali ke sekolah dan rumah masing-masing, mereka mungkin terlihat sebagai siswa yang sama. Namun, di dalam diri mereka telah tumbuh pengalaman, keberanian, kepedulian, dan cara pandang yang baru.
Inilah makna Youth Summer Experience 2026: Warriors’ Horizon—sebuah perjalanan yang tidak hanya memperluas cakrawala, tetapi juga menumbuhkan karakter untuk menghadapi masa depan.



“Awalnya saya merasa canggung karena harus tinggal dengan keluarga yang belum pernah saya kenal. Namun, beberapa hari kemudian saya merasa seperti memiliki keluarga baru. Saya juga bertemu teman-teman dari sekolah lain. Kami belajar saling membantu, berbagi tugas, dan menyelesaikan tantangan bersama. Rasanya ini bukan hanya program sekolah, tetapi pengalaman hidup yang akan selalu saya ingat.”


